PLANET BUMI, BANGKU TAMAN, EVERY BOD LOVE IRENS, DHENDY

March 20th, 2007 by dhendy

Buzzing Folks,…… Here`s Part.01 Closing
Party of story by PLANET BUMI, Working
Class Zero Album. Make yourself the
history witness in this event

The Closing Party Part.01 of “ Working
Class Zero “
PLANET BUMI

Saturday, 24th March 2007
TIMEOUT Café – Pasar Festival
Kuningan - Jakarta
18.00 – 22.00

The Great Perform by

PLANET BUMI
BANGKU TAMAN
EVERY BODY LOVES IRENE
DHENDY
THE KUCRUTS
SOULFULLSONIC
REVOLUSI POP

Big supported

INDOSAT M3, OZ 103.1 FM, TRAX 101.4 FM,
PARAMUDA 93.7 FM,
CBL 91.7 FM, DEATHROCKSTAR.info,
RIPPLE, THE RAINYDAYS.tk, INDOSTARS.com,
MALESBANGET.com, THREEFOLD.tk,
INDIEBANDUNG.com, GREY, LOUD, SUAVE,
TWINS MUSIC, SIXTYDEGREE

NO COVER CHARGE

Organized by
EVONICA
PlanB Management

From QUARTER LIFE CRISIS @ Splash, Kemang (10/02/2006) : And The Show Goes On…

February 11th, 2007 by dhendy

From QUARTER LIFE CRISIS @ Splash, Kemang (10/02/2006) : And The Show Goes On…
written by An stereofoam
http://anzarra.multiply.com

memasuki kawasan Kemang sekitar pukul 9 malam, suasana sedikit aneh. rupanya

terjadi pemadaman arus listrik di daerah tersebut. mengingat saya sudah jauh

terlambat, mungkin saya tertinggal penampilan dari Dhendy. saya kemudian melakukan

servis pesan singkat.

tak dinyana, yang dikirimi Dhendy, eh yang membalas Uga. pengisi acara rupanya

belum memulai penampilannya. saya kemudian meneruskan perjalanan menuju Splash,

meski dengan harap-harap cemash. *biar ngerhyme*

setelah melewati kepadatan lalu lintas akibat lampu merah perempatan McDonald yang

juga padam, sampailah saya di Splash. benar saja, suasana gelap gulita. setelah

mencari-cari, saya menemukan Uga dan kolega thedyingsirens-nya di dalam X-Toys.

Uga bercerita bahwa saat thedyingsirens sedang soundcheck, listrik padam.

akibatnya, acara bertajuk Quarter Life Crisis ini berubah menjadi Quarter Light

Crisis. untunglah pihak X-Toys menyediakan gelas lilin, sehingga masih ada

penerangan yang cukup untuk disebut romantis (saya teringat kafe halaman di

bandung).

tidak lama, Dhendy muncul dengan seperangkat gitar akustik. yeah, the show must go

on. pemusik-pemusik ini tidak akan menyerah hanya karena aliran listrik yang padam.

acara pun dimulai, meski format dirombak menjadi akustik. panggung kemudian

berpindah ke sayap kiri X-Toys.

Dhendy, tentu saja -menjadi pembuka acara. memulai dengan lagu dari Incubus, ini

adalah pembukaan yang bagus. ditemani oleh Made, duet ini begitu atraktif. vokal

tanpa mikrofon dan dua gitar tanpa arus elektrisitas, ternyata tidak mengurangi

kualitas sebuah penampilan.

Dhendy memainkan set medium. salah satu catatan ketika dia membawakan Gatekeeper

dari Leslie Feist. Dhendy mendapatkan referensi Feist dari Sarah Silaban. sebagai

pendengar Feist, saya justru mendapatkan ekspektasi lebih baik. Dhendy tetap

menjaga lagu itu, dengan ciri khasnya.

selain itu Dhendy sempat membawakan lagu dari Lifehouse (You and Me), meskipun

penonton memintanya membawakan Mr.Big, Bon Jovi atau Scorpion. :D

tentu ada beberapa lagu yang akan masuk dalam mini album (catat: rilis bulan Maret

mendatang!) yang dimainkan. diantaranya adalah Lies (yang merupakan curhatan Dhendy

karena ditinggal kawin.. ahak) dan tidak ketinggalan This Be Over yang masuk ke

dalam kompilasi traxsound dari majalah trax di bulan Januari lalu.

being a friend of him, dengan objektif saya mengatakan bahwa Dhendy punya kualitas

yang baik. sebab, karakter vokal dan gaya menyanyi yang khas sudah dimiliki. he

might be not a next big thing, but he’s too good to ignore. tentu saja, kredit

bagus juga untuk Made yang begitu atraktif mengisi permainan Dhendy.

sebelum penampilan thedyingsirens, ada Tavino Viole yang membawakan puisi tentang

kapal dan pelabuhan. sedikit mengingatkan kepada puisi Pablo Neruda dengan tema

yang sama. pada saat ini, gitaris saya Natzo datang bersama istrinya. saya sedikit

tidak memperhatikan Tavino karena membahas basis saya yang tidak jadi datang.

thedyingsirens semula akan bermain utuh, dengan format yang berubah akhirnya hanya

menampilkan Uga dengan gitar akustik. dibuka dengan lagu yang terakhir saya lihat

dibawakan Uga lebih setahun lalu di parc : Whir dari Smashing Pumpkins.

she says she wants to marry me…
she says she wants a baby…
it’s not easy, when you’re scared…

mampus gak lo. saya seperti dipaksa galau sama thedyingsirens (padahal sambil

nyanyi, saya sekalian curhat colongan. haha). terutama lagu berikutnya pada list

adalah milik Pete Yorn. dengan cahaya minim, siapa coba yang tidak galau.

pada lagu keempat jika tidak salah, Made kemudian ikut bermain. maka terjadilah

kolaborasi antara Uga dan Made. dengan basic jazz yang bagus, tentu bukan halangan

bagi Made untuk melakukan sesi bersama.

bagian menarik terjadi saat Uga membutuhkan part solo untuk masuk, Uga berkata

kepada Made : "Solo!" lalu Made bermain solo. ketika tiba pada bar yang kira-kira

solo berakhir, Uga kembali berkata : "Solo lagi!" sehingga Made yang sudah siap

berhenti, kembali memainkan part solo berikutnya. haha. semua tertawa, karena ini

benar-benar menyenangkan. dan disaat Made sedang seru bermain solo, Uga berkata

lagi : "Sudah cukup!" yang kembali mengundang tawa dan tentu saja tepuk tangan.

kemudian thedyingsirens membawakan The Falls of Idiots. lagu yang belum masuk ke

album pertama ini (Sketch of Humming) apa boleh buat harus kehilangan bagian ‘mari

belajar tangga nada’ pada bagian intronya karena dibawakan akustik. padahal ini

bagian yang seru buat saya :)

saya kemudian kembali fokus kepada rencana band bersama Natzo. memang rencana awal

kami selain melihat penampilan, juga membahas mengenai rencana studio dan

pemotretan dalam 2 bulan ini. namun perhatian saya kembali ke panggung ketika

thedyingsirens membawakan Want To Say.

saya otomatis ikut bernyanyi, dan lucunya di dekat saya Dhendy juga semangat

bernyanyi. ini mengingatkan kembali kenangan di parc lewat setahun lalu itu, ketika

Dhendy bersama saya bermain dalam Cheryl Pop dan kami juga bernyanyi bersama saat

thedyingsirens yang tampil sebelum kami dengan membawakan lagu ini. tambahan, acara

tersebut juga diadakan oleh Eric, juga dengan format ‘agak’ akustik. :D

sesi menarik kembali terjadi saat Uga menghentikan permainan gitarnya dan menahan

bagian "La la lalala lala", mengajak penonton bernyanyi sambil bertepuk tangan

bersama-sama. dan spontan semua mengikuti sebelum tertawa bersama-sama mendengar

celetukan dari Nourie (gitaris thedyingsirens) kalo tidak salah. seperti konser

jaman dulu, katanya. :D

sebagai seorang yang sebelumnya banyak berada di belakang set drum, Uga terbukti

begitu komunikatif dan dapat membawa penonton. Uga memiliki apa yang perlu dimiliki

oleh seorang frontman, dan secara personal adalah seorang performer yang baik.

berikutnya ada Sugarspin, band yang serupa dengan thedyingsirens (karena campuran

dari berbagai band lain seperti Clover dan Dzeek) yang baru pertama kali bermain

akustik. saya tidak begitu memperhatikan, lagi-lagi karena masih membahas rencana

band sendiri. terutama mengenai image baru yang akan meniru sebuah band luar

negeri. namun sekilas memperhatikan, Sugarspin menjadi terdengar seperti band folk

tahun 60-an dengan format akustiknya : in a good way.

disaat sedang seru berdiskusi, Eric menghampiri dan menanyakan apakah saya dan

Natzo mau ikut tampil. saya dan Natzo terkejut, karena selain tidak siap kami juga

hampir setahun tidak pernah latihan. ditambah tidak pernah bermain dengan format

akustik. okay, saya bisa menyebut 101 alasan lagi namun intinya kami tidak siap.

kami sampai tawar menawar jumlah lagu saking gugupnya. haha.

akhirnya, kami tampil dengan 3 lagu. ini penampilan pertama Stereofoam selama

hampir setahun, haha. kita main kacau banget. tiap kali mau memainkan lagu, saya

pasti nanya ke Natzo : "eh, lagu ini kuncinya apa? dari F kemana?"

gila, lagu sendiri gak hapal! haha. saya juga lupa lirik lagu yang direkam November

kemarin. jadi liriknya diulang-ulang terus. ditambah gak bisa nyanyi dengan nada

tinggi, maka kacau balaulah penampilan mendadak dari setengah Stereofoam ini.

untung suasana gelap, ditambah banyak yang sibuk dengan hidangan makan malam. jadi

tidak terlalu diperhatikan. bagi yang memperhatikan dan kecewa, mohon maaf ya.

namanya juga band kejutan, jadi sampai main pun masih terkejut : "Lho, ini apa ya

liriknya?". haha.

list malam itu adalah Bintang Jatuh, Gadis Bohemian, dan Lagu Terakhir yang menjadi

lagu terakhir. iya, judulnya memang Lagu Terakhir dari EP pertama yang gak pernah

dibawakan selama 4 tahun.

terasa sekali bahwa saya dan Natzo selama ini memang terlalu dimanja sama Raymond

(bas) dan Greg (drum). begitu kehilangan back-up, berantakan semua mainnya. well,

ini jadi masukan juga buat kita. trims Eric atas kesempatan mendadaknya :)

well, malam itu tidak berakhir berantakan begitu saja karena penampilan kami, sebab

Dhendy dan Made sekali lagi mengambil alih panggung. sepertinya bintang malam itu

memang Dhendy. dalam sesi kedua ini, keduanya bermain lebih kompak dan Dhendy

menyanyi lebih baik dan stabil.

this boy is something. terutama saat membawakan "What A Difference A Day Makes"

atau apalah judulnya itu. pokonya Dhendy, you are the first i invites to my wedding

dan harus nyanyi lagu itu disana nanti… meskipun sudah jadi artis tenar pada saat

itu… ha.. promise me! :D

dan tentunya, Dhendy memenuhi harapan kami semua karena akhirnya… menyanyikan

"I’ll Be There For You" dari Bon Jovi, meski cuma rame pada saat chorus saja. haha.

kemudian Dhendy menutup dengan lagu sedih dalam bahasa indonesia miliknya sendiri.

penampilan malam itu berakhir.

untuk sebuah acara yang terhadang kendala elektrisitas dari awal hingga akhir, ini

adalah acara sederhana yang menyenangkan. ini adalah sebuah kado yang menyenangkan

untuk Eric (malam itu Eric berulang tahun ke 25) ditambah semua pengisi acara yang

bermain sama fun-nya.

sepanjang acara itu, saya merasa sedang berada dalam perkumpulan seniman-seniman

gypsi, mungkin di suatu kafe di perkampungan seniman pantai Venice dimana Jim

Morrison bertemu Ray Manzarek. datang ke suatu tempat, berkumpul, lalu bergantian

tampil di panggung dan saling mengapresiasi. tidak perlu pesta dengan lampu-lampu

meriah, karena sesederhana ini suasana seninya lebih terasa.

absolutely a great show dengan segala keterbatasannya. dan senang bisa menjadi

bagian (mendadak) disana.

“Sarjana Sastra Prancis, Penggila Musik!”

February 2nd, 2007 by dhendy

Gue sekolah untuk kembali
bermusik. Dari kecil gue tahu kalo yang gue pengen cuma main musik. Tapi gue
tahu kalau menyelesaikan pendidikan juga merupakan tanggungjawab gue ke bokap,
makanya gue tetap bertahan di bangku kuliah sampai lulus. Dan sekarang… gue dah
bebas main musiikk!

 Di
tahun 2003, gue nyerah dengan band gue. Akhirnya gue putusin untuk cuti. Tapi gue gak tahan jauh-jauh dari musik
sehingga akhirnya gue cari pengalaman
baru tapi yang gak jauh-jauh dari musik. Gue bekerja di audio departemen Iguana Ringtone sebagai
digital music composer.

 Musik
gue sendiri banyak dipengaruhi oleh 90’s rock, seperti Pearl Jam, Goo Goo
Dolls, Radiohead, dan sekarang lebih akrab dengan electronic music begitu
“lulus” dari Iguana. Untuk track di-feature
di Trax yang judulnya “This Be Over”, gayanya lebih ke open strings ala
Goo Goo Dolls yang dikombinasi dengan vokal mellow ala Thom Yorke. Untuk
finishingnya, gue sengaja ngasih sentuhan elektronik. Produksinya juga nggak
ribet. Gue main semua instrumennya (guitars, bass), vokalnya juga, kecuali drum
loopsnya, gue dibantu oleh Made dari
“Escape to Freedom”.

 Gue
seneng banget bisa feature lagu gue di album Trax kali ini soalnya lagu gue
yang ngaco-ngaco begini banyak banget. Nah, dengan tuntutan publikasi di CD
seperti ini, gue jadi terpacu untuk seriusin track-track gue yang sudah ada.
Rencana gue nggak muluk-muluk kok, dalam
waktu dekat gue akan rilis album gue melalui distribusi digital.

 Maret 2003 - Oktober
2005: Bekerja di sebuah perusahaan Content Provider sebagai head of Audio
department.

2005 – present:
Gitaris dan backing vokal Sarah Silaban

2006: Pertama kalinya
mencoba tampil solo dalam Launching dan tur promo novel Jessica Huwae yang
berjudul Soulmate.com di Jakarta dan di Bandung.

STAGE EXPERIENCES WITH HITAM
PUTIH (MY ex BAND)

· Pesta
Rock Café ’97, on air di radio SK

· Pesta
Rock Café ’97, di chi-chis Restaurant, Kemang

· Pesta
Rock Café ’97, M Club, Blok M

· Rock
atmosphere, 1998. Poster Café

· Tawuran
Musik Levis II ’98 di Bengkel Café

· Tawuran
Musik Levis II ’98 di Bengkel Night Park

· Pagelaran
Musik Kemerdekaan ’98. Depok

· Mercu
Buana Musik Festival ’99. Mercu Buana

· Gelar
Sastra Raya ’99. Fakultas Sastra
Universitas Indonesia

· Promp
Night D3 Fisip Komunikasi 99

· Pekan Bahasa Perancis 99. Universitas Negeri Jakarta

· Pagelaran
Musik ABA 2000

· Gelar
Sastra Raya 2000 Fakultas Sastra Universitas Indonesia

· Pekan
Peduli Sastra di Mal Depok

· Ngamen Kansas Fakultas Sastra Universitas
Indonesia 2000

· Technite UI 2001

· Yamaha Band Alert 2001

· Ajang Indigo. Januari 2002. On Air

· Pekan Bahasa Perancis 2002 Universitas Negeri
jakarta.

· Pagelaran
musik IKJ jurusan Seni Musik, juni 2002

· Home band di Chi-chi’s Restaurant and Café,
Kemang, Januari 2003

dhendy@gig

February 2nd, 2007 by dhendy

QUARTER LIFE CRISIS ;

10 FEBRUARY 2007 @ X-TOYS SPLASH KEMANG- 20.30-KELAR…
W/ THE DYING SIRENS,

SUGAR SPIN,

DHENDY,

ECLIPSE,

and poetry reading by TAVINO VIOLE…. free… make your life worth by attending this beautiful show.

jaman sudah berubah

January 19th, 2007 by dhendy

14:43, Kamis

 Barusan
saya ngobrol dengan tukang mie ayam yang biasanya “ngetem” di depan
rumah saya. Seperti biasanya, dia menawarkan saya mie ayam. Saya
menolaknya, karena saya sudah makan nasi padang dua jam sebelumnya.
Perut saya masih kenyang. Jujur saja, saat itu saya masih mencoba
menyadarkan diri dari tidur lelap yang tiba-tiba terbangun oleh telpon
dari seorang wanita yang bekerja di salah satu stasiun TV. Dia
menanyakan apakah saya punya kenalan seorang audio engineer. Sial, saya kira dia nelpon untuk ngasi kerjaan manggung apa yang lainnya kek, selain dari audio engineer! Ya sudah saya bilang, kalau saya tidak kenal lagi seorang audio engineer yang mau bekerja di sebuah stasiun TV.

 Kembali
pada cerita tukang mie ayam tadi. Dia adalah bukan sembarang tukang mie
ayam. Dia seorang tukang mie ayam yang profesional. Dia sudah bekerja
menjadi seorang tukang mie ayam sejak saya masih kecil. Bahkan, kata
mama saya, dia sudah bekerja menjadi tukang mie ayam sejak saya masih
di rahim mama. Karena dia sangat senior sekali, makanya saya sangat
menghormati dia. Walau terkadang dia suka maksa-maksa agar orang mau
membeli mie ayamnya. Saya masih bisa bersabarlah. Saya keluar sebentar
untuk membeli sebatang rokok. Sebatang rokok yang sangat nikmat sekali
dihisap setelah bangun dari tidur. Setelah itu saya kembali pulang.
Tukang mie ayam itu masih ada di depan rumah saya, mengetok-ngetok
“bel” nya yang terbuat dari bambu, mengeluarkan suara yang khas. Sebuah
panggilan khas dari gerobak mie ayam.

 Saya memutuskan untuk duduk di depan teras rumah. Menikmati angin sepoi-sepoi yang lalu lalang menampar wajah saya. Damn! Rasanya
sangat enak sekali. Rokok di tangan, angin menerpa, hembusan asap yang
sempat hinggap di paru-paru, dan sekelumit pikiran di kepala. Pada saat
saya sedang enak-enaknya terbang ke alam mimpi saya (humans do fly loh!),
terdengar kata-kata yang ditangkap oleh telinga saya. “Sepi banget ya
sekarang di sini.” Oh, ternyata kata-kata itu keluar dari mulut tukang
mie ayam tersebut. Saya benar-benar tak siap dengan dengan pernyataan
seperti ini. Pada saat itu, saya tidak ingin diganggu. Saya ingin
menikmati ritual merokok saya dan mencoba mengatasi sekelumit masalah
yang bermain di kepala saya. Lalu saya ingat kata mama, “kalau orang
tua ngomong tuh harus dihormati!” Ya sudah, saya jawab saja
se-kena-nya. “Iya, sepi banget, mungkin lagi pada tidur kali ya pak!”.
Semoga dengan jawaban seperti itu, sesi obrolan akan ditutup. Saya
sengaja untuk memalingkan muka pada saat melontarkan pernyataan
tersebut sebagai sebuah kode yang menyatakan bahwa saya sedang tidak
ingin diganggu.

 Tapi
apa yang terjadi. Dia malah meneruskan obrolannya. “dulu kok kayanya
rame banget ya, ngga kaya sekarang. Jaman udah berubah ya”, dia berkata
dengan mata menerawang ke atas. Pandang dia yang menatap langit membuat
saya menatap wajahnya. Wajah yang keras. Wajah yang keras yang ditempa
oleh ruang dan waktu. Sebuah wajah yang menggambarkan sesosok manusia
yang menolak untuk gagal, yang akan terus berjuang untuk bertahan dalam
hidup yang kian susah.

 Jujur
saja, saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya sedikit banyak setuju
dengan pendapat bapak tukang mie ayam tersebut. Jaman sudah berubah.
Jaman, sebuah rentang ruang dan waktu. Sebuah sekat yang mempunyai ciri
unik dengan sekat-sekat lainnya. Saya tahu, kata-kata ini dilontarkan
musti ada hubungannya dengan penawaran mie ayam yang saya tolak. Tapi,
kenapa harus melontarkan pernyataan jaman sudah berubah. Apakah, mie
ayam itu sudah ketinggalan jaman? Apakah bapak tukang mie itu sadar
bahwa mie ayam sudah tidak bisa bersaing dengan “mie-mie” yang lebih
modern? Saya hanya bisa menebak-nebak saja tentang maksud si bapak itu
melontarkan pernyataan jaman sudah berubah. Jaman, berubah, mie ayam,
rahim, mama, tiba kata-kata itu mulai melayang-layang di kepala saya.

 Saya
hanya bisa menatap wajahnya, berharap bisa beradu mata dengan matanya.
Akhrinya, mata saya bertemu dengan mata dia. Saya hanya bisa tersenyum.
Sebuah senyum dukungan yang berkata “ayo pak! Kamu bisa. Kamu bisa
menghadapi jaman ini. Mie ayam mu pasti bisa bertahan di jaman ini.
Semoga mie ayam mu bisa bertahan di jaman apa saja!”

aku dan kata-kata

January 11th, 2007 by dhendy

Aku hanya bisa seperti ini. Menulis tiada arti. Menggali sampai ke dasar alam pikiranku. Mencoba menemukan seonggok buah pikiran mungkin bisa aku tulis di sini. Tapi tampaknya gumpalan pikiran itu memang tidak ada di sini. Yang ada hanya serpihan kata-kata yang melayang-layang tidak tentu arah. Terbang tak tentu arah, menukik, meliuk-liuk, seolah kata-kata itu mempunyai pikirannya sendiri, terpisah dari pikiranku. Harusnya kata-kata itu tunduk kepadaku. Tapi mereka memberontak, menolak untuk ditundukkan. Mereka meninggalkanku dengan pikiran yang kosong. Yang tersisa hanyalah jejak-jejak mereka yang berbentuk serpihan-serpihan tak berarti. Terbesit dalam pikiranku untuk mencoba berdialog dengan kata-kata yang bebas terbang itu.

“Wahai kata-kata, maukah diri kalian mampir ke pikiranku barang sebentar?”, aku berkata kepada mereka. Mereka tidak menjawab, mereka hanya terus terbang tak tentu arah, tanpa suara, hanya kilatan cahaya bekas pergerakan mereka.

“Sungguh, aku sangat membutuhkan dirimu sekarang!”, aku kembali membuka mulutku kepada mereka.

“Sungguh kami tidak mau hai manusia! Kamu hanya mau menggunakan kami pada saat kamu butuh saja. Setelah itu, kamu buang kami, kamu bungkam kami, kamu taruh kami ke tempatmu yang penuh dengan debu, lalu kamu melupakan kami begitu saja. Kamu meninggalkan kami sampai-sampai salah satu dari kami mati. Sesungguhnya kami pun bernyawa, mempunyai jiwa sebagaimana layaknya manusia!”

Sesaat, aku mulai berpikir apakah aku gila? Mana mungkin kata-kata bisa berbicara! Tapi inilah kenyataannya. Aku berkata kepada kata-kata yang balik berkata kepada perkataanku. Sebegitu dekatkah diriku dengan kata-kata sehingga mereka mau berbicara denganku? Atau, sebegitu kejamkah diriku terhadap kata-kata sehingga, akhirnya, mereka mau berbicara dengan aku? Apakah aku sudah gila? Berbicara dengan dengan kata-kata yang seharusnya tak berkata-kata kepadaku?

Aku mulai berpikir bagaimana caranya agar kata-kata itu mau bekerja sama denganku. Sehingga aku bisa mengungkapkan rasaku melalui kata-kata. Aku baru sadar, bahwa kata-kata pun mempunyai rasa. Mereka juga ingin berkata-kata melalui dirinya sendiri.

“wahai kata-kata yang baik hati, apakah yang harus aku lakukan agar kalian mau bekerja sama dengan aku lagi?”, aku mencoba bertanya lagi ke mereka dengan harapan agar mereka mau aku gunakan lagi.

“Bebaskan kami! Kami hanya ingin bebas mengungkapkan apa yang kami ingin ungkapkan. Kami ingin bebas bicara apa yang ingin kami bicarakan. Kami ingin berada dan meng-ada seperti apa adanya. Kami tidak ingin dibelokkan dengan kebohongan, kami tidak ingin dimanipulasi dengan kekosongan. Gunakan kami secara benar adanya. Maukah kamu menggunakan kami seperti itu?”, kumpulan kata-kata itu pun kembali bertanya kepada aku.

Pada saat mereka kembali bertanya kepadaku, aku mulai merasa bingung. Apakah aku terlalu lama bicara dan tak pernah menulis. Sehingga mereka merasa seperti dianak tirikan? Apakah mereka ingin berdemonstrasi, membicarakan tentang kesamaan hak antara bicara dan menulis? Tapi, Arrrgghhh… Aku benar-benar merasa bersalah pada kata-kata. Entah aku harus bilang apa ke mereka. Sungguh, ternyata mereka juga punya pikiran. Mereka juga ingin bebas seperti manusia. Selama ini, kata-kata hanya ditunggangi oleh manusia untuk memenuhi hasrat kebutuhan manusia sendiri. Tanpa memikirkan kebutuhan kata-kata. Errrr… Sebenarnya apa yang aku tulis? Ya sudah, lupakanlah, apa labih baik aku hapus saja tulisan ini? Ups, sepertinya aku tidak bisa menghapusnya. Aku takut kata-kata itu akan berbicara lagi kepadaku.

me on air!

January 4th, 2007 by dhendy

aduh jeng…jangan lupa dengerin 101,4 trax fm hari jumat besok pagi antara jam 9 - 10 pagi ya bok… dhendy akan di interview mengenai single lagunya yang menempel pada cd kompilasi traxound edisi numero uno bulan januari ini…jangan lupa ya..ya..ya..

me on air!

January 4th, 2007 by dhendy

aduh jeng…jangan lupa dengerin 101,4 trax fm hari jumat besok pagi antara jam 9 - 10 pagi ya bok… dhendy akan di interview mengenai single lagunya yang menempel pada cd kompilasi traxound edisi numero uno bulan januari ini…jangan lupa ya..ya..ya..

December 23rd, 2006 by dhendy
ALBUM KOMPILASI

*TRAXOUND *1turn out your hearing aid*

Trax list:THE SOUTHERN BEACH TERROR (Jogja) – Wave of BloodDOUET MAUET'S (Bogor) – Dancing Dandy DidudamVOX (Surabaya) – Surabaya #1 (*radio single)*DHENDY (Jakarta) – This Be Over (*radio single*)TERROR / INCOGNITA (Semarang) – Little HandsAIRPORT RADIO (Jogja) – Turun Dalam Rupa CahayaDAGGER STAB (Jakarta) – Dagger on Your BackSPEEDKILL (Speedkill) – Parade Kanibal UtopisSLEEPLESS ANGEL (Jogja) – Werewolf DanceEXTREME DECAY (Malang) – Masih Ada Darah

Mastered by Joseph Manurung at dEStudio, Jl. Senayan N0.67 Jakarta

Compiled by Farid Amriansyah, Alvin Yunata, Wahyu Nogroho

Supervised by: Andre Sumual

DAPATKAN ALBUM KOMPILASI INI BERSAMA TRAX MAGAZINE EDISI 54, JANUARI 2007Harga Rp. 30.000,-ON STORE 22 DESEMBER 2006HOTLINE PEMESANAN : (021) 3152683 - 84

dengarkan lagu-lagu album ini di 101.4 TRAX FM Jakarta dan 90.2 TRAX FMSemarang

ku tak pandai

November 13th, 2006 by dhendy

Aku tak pandai merangkai kata

Aku tak pandai menghitung angka

Bahkah aku bodoh dalam masalah cinta…

Aku hanya bisa merangkai nada