From QUARTER LIFE CRISIS @ Splash, Kemang (10/02/2006) : And The Show Goes On…
written by An stereofoam
http://anzarra.multiply.com
memasuki kawasan Kemang sekitar pukul 9 malam, suasana sedikit aneh. rupanya
terjadi pemadaman arus listrik di daerah tersebut. mengingat saya sudah jauh
terlambat, mungkin saya tertinggal penampilan dari Dhendy. saya kemudian melakukan
servis pesan singkat.
tak dinyana, yang dikirimi Dhendy, eh yang membalas Uga. pengisi acara rupanya
belum memulai penampilannya. saya kemudian meneruskan perjalanan menuju Splash,
meski dengan harap-harap cemash. *biar ngerhyme*
setelah melewati kepadatan lalu lintas akibat lampu merah perempatan McDonald yang
juga padam, sampailah saya di Splash. benar saja, suasana gelap gulita. setelah
mencari-cari, saya menemukan Uga dan kolega thedyingsirens-nya di dalam X-Toys.
Uga bercerita bahwa saat thedyingsirens sedang soundcheck, listrik padam.
akibatnya, acara bertajuk Quarter Life Crisis ini berubah menjadi Quarter Light
Crisis. untunglah pihak X-Toys menyediakan gelas lilin, sehingga masih ada
penerangan yang cukup untuk disebut romantis (saya teringat kafe halaman di
bandung).
tidak lama, Dhendy muncul dengan seperangkat gitar akustik. yeah, the show must go
on. pemusik-pemusik ini tidak akan menyerah hanya karena aliran listrik yang padam.
acara pun dimulai, meski format dirombak menjadi akustik. panggung kemudian
berpindah ke sayap kiri X-Toys.
Dhendy, tentu saja -menjadi pembuka acara. memulai dengan lagu dari Incubus, ini
adalah pembukaan yang bagus. ditemani oleh Made, duet ini begitu atraktif. vokal
tanpa mikrofon dan dua gitar tanpa arus elektrisitas, ternyata tidak mengurangi
kualitas sebuah penampilan.
Dhendy memainkan set medium. salah satu catatan ketika dia membawakan Gatekeeper
dari Leslie Feist. Dhendy mendapatkan referensi Feist dari Sarah Silaban. sebagai
pendengar Feist, saya justru mendapatkan ekspektasi lebih baik. Dhendy tetap
menjaga lagu itu, dengan ciri khasnya.
selain itu Dhendy sempat membawakan lagu dari Lifehouse (You and Me), meskipun
penonton memintanya membawakan Mr.Big, Bon Jovi atau Scorpion.
tentu ada beberapa lagu yang akan masuk dalam mini album (catat: rilis bulan Maret
mendatang!) yang dimainkan. diantaranya adalah Lies (yang merupakan curhatan Dhendy
karena ditinggal kawin.. ahak) dan tidak ketinggalan This Be Over yang masuk ke
dalam kompilasi traxsound dari majalah trax di bulan Januari lalu.
being a friend of him, dengan objektif saya mengatakan bahwa Dhendy punya kualitas
yang baik. sebab, karakter vokal dan gaya menyanyi yang khas sudah dimiliki. he
might be not a next big thing, but he’s too good to ignore. tentu saja, kredit
bagus juga untuk Made yang begitu atraktif mengisi permainan Dhendy.
sebelum penampilan thedyingsirens, ada Tavino Viole yang membawakan puisi tentang
kapal dan pelabuhan. sedikit mengingatkan kepada puisi Pablo Neruda dengan tema
yang sama. pada saat ini, gitaris saya Natzo datang bersama istrinya. saya sedikit
tidak memperhatikan Tavino karena membahas basis saya yang tidak jadi datang.
thedyingsirens semula akan bermain utuh, dengan format yang berubah akhirnya hanya
menampilkan Uga dengan gitar akustik. dibuka dengan lagu yang terakhir saya lihat
dibawakan Uga lebih setahun lalu di parc : Whir dari Smashing Pumpkins.
she says she wants to marry me…
she says she wants a baby…
it’s not easy, when you’re scared…
mampus gak lo. saya seperti dipaksa galau sama thedyingsirens (padahal sambil
nyanyi, saya sekalian curhat colongan. haha). terutama lagu berikutnya pada list
adalah milik Pete Yorn. dengan cahaya minim, siapa coba yang tidak galau.
pada lagu keempat jika tidak salah, Made kemudian ikut bermain. maka terjadilah
kolaborasi antara Uga dan Made. dengan basic jazz yang bagus, tentu bukan halangan
bagi Made untuk melakukan sesi bersama.
bagian menarik terjadi saat Uga membutuhkan part solo untuk masuk, Uga berkata
kepada Made : "Solo!" lalu Made bermain solo. ketika tiba pada bar yang kira-kira
solo berakhir, Uga kembali berkata : "Solo lagi!" sehingga Made yang sudah siap
berhenti, kembali memainkan part solo berikutnya. haha. semua tertawa, karena ini
benar-benar menyenangkan. dan disaat Made sedang seru bermain solo, Uga berkata
lagi : "Sudah cukup!" yang kembali mengundang tawa dan tentu saja tepuk tangan.
kemudian thedyingsirens membawakan The Falls of Idiots. lagu yang belum masuk ke
album pertama ini (Sketch of Humming) apa boleh buat harus kehilangan bagian ‘mari
belajar tangga nada’ pada bagian intronya karena dibawakan akustik. padahal ini
bagian yang seru buat saya
saya kemudian kembali fokus kepada rencana band bersama Natzo. memang rencana awal
kami selain melihat penampilan, juga membahas mengenai rencana studio dan
pemotretan dalam 2 bulan ini. namun perhatian saya kembali ke panggung ketika
thedyingsirens membawakan Want To Say.
saya otomatis ikut bernyanyi, dan lucunya di dekat saya Dhendy juga semangat
bernyanyi. ini mengingatkan kembali kenangan di parc lewat setahun lalu itu, ketika
Dhendy bersama saya bermain dalam Cheryl Pop dan kami juga bernyanyi bersama saat
thedyingsirens yang tampil sebelum kami dengan membawakan lagu ini. tambahan, acara
tersebut juga diadakan oleh Eric, juga dengan format ‘agak’ akustik.
sesi menarik kembali terjadi saat Uga menghentikan permainan gitarnya dan menahan
bagian "La la lalala lala", mengajak penonton bernyanyi sambil bertepuk tangan
bersama-sama. dan spontan semua mengikuti sebelum tertawa bersama-sama mendengar
celetukan dari Nourie (gitaris thedyingsirens) kalo tidak salah. seperti konser
jaman dulu, katanya.
sebagai seorang yang sebelumnya banyak berada di belakang set drum, Uga terbukti
begitu komunikatif dan dapat membawa penonton. Uga memiliki apa yang perlu dimiliki
oleh seorang frontman, dan secara personal adalah seorang performer yang baik.
berikutnya ada Sugarspin, band yang serupa dengan thedyingsirens (karena campuran
dari berbagai band lain seperti Clover dan Dzeek) yang baru pertama kali bermain
akustik. saya tidak begitu memperhatikan, lagi-lagi karena masih membahas rencana
band sendiri. terutama mengenai image baru yang akan meniru sebuah band luar
negeri. namun sekilas memperhatikan, Sugarspin menjadi terdengar seperti band folk
tahun 60-an dengan format akustiknya : in a good way.
disaat sedang seru berdiskusi, Eric menghampiri dan menanyakan apakah saya dan
Natzo mau ikut tampil. saya dan Natzo terkejut, karena selain tidak siap kami juga
hampir setahun tidak pernah latihan. ditambah tidak pernah bermain dengan format
akustik. okay, saya bisa menyebut 101 alasan lagi namun intinya kami tidak siap.
kami sampai tawar menawar jumlah lagu saking gugupnya. haha.
akhirnya, kami tampil dengan 3 lagu. ini penampilan pertama Stereofoam selama
hampir setahun, haha. kita main kacau banget. tiap kali mau memainkan lagu, saya
pasti nanya ke Natzo : "eh, lagu ini kuncinya apa? dari F kemana?"
gila, lagu sendiri gak hapal! haha. saya juga lupa lirik lagu yang direkam November
kemarin. jadi liriknya diulang-ulang terus. ditambah gak bisa nyanyi dengan nada
tinggi, maka kacau balaulah penampilan mendadak dari setengah Stereofoam ini.
untung suasana gelap, ditambah banyak yang sibuk dengan hidangan makan malam. jadi
tidak terlalu diperhatikan. bagi yang memperhatikan dan kecewa, mohon maaf ya.
namanya juga band kejutan, jadi sampai main pun masih terkejut : "Lho, ini apa ya
liriknya?". haha.
list malam itu adalah Bintang Jatuh, Gadis Bohemian, dan Lagu Terakhir yang menjadi
lagu terakhir. iya, judulnya memang Lagu Terakhir dari EP pertama yang gak pernah
dibawakan selama 4 tahun.
terasa sekali bahwa saya dan Natzo selama ini memang terlalu dimanja sama Raymond
(bas) dan Greg (drum). begitu kehilangan back-up, berantakan semua mainnya. well,
ini jadi masukan juga buat kita. trims Eric atas kesempatan mendadaknya
well, malam itu tidak berakhir berantakan begitu saja karena penampilan kami, sebab
Dhendy dan Made sekali lagi mengambil alih panggung. sepertinya bintang malam itu
memang Dhendy. dalam sesi kedua ini, keduanya bermain lebih kompak dan Dhendy
menyanyi lebih baik dan stabil.
this boy is something. terutama saat membawakan "What A Difference A Day Makes"
atau apalah judulnya itu. pokonya Dhendy, you are the first i invites to my wedding
dan harus nyanyi lagu itu disana nanti… meskipun sudah jadi artis tenar pada saat
itu… ha.. promise me!
dan tentunya, Dhendy memenuhi harapan kami semua karena akhirnya… menyanyikan
"I’ll Be There For You" dari Bon Jovi, meski cuma rame pada saat chorus saja. haha.
kemudian Dhendy menutup dengan lagu sedih dalam bahasa indonesia miliknya sendiri.
penampilan malam itu berakhir.
untuk sebuah acara yang terhadang kendala elektrisitas dari awal hingga akhir, ini
adalah acara sederhana yang menyenangkan. ini adalah sebuah kado yang menyenangkan
untuk Eric (malam itu Eric berulang tahun ke 25) ditambah semua pengisi acara yang
bermain sama fun-nya.
sepanjang acara itu, saya merasa sedang berada dalam perkumpulan seniman-seniman
gypsi, mungkin di suatu kafe di perkampungan seniman pantai Venice dimana Jim
Morrison bertemu Ray Manzarek. datang ke suatu tempat, berkumpul, lalu bergantian
tampil di panggung dan saling mengapresiasi. tidak perlu pesta dengan lampu-lampu
meriah, karena sesederhana ini suasana seninya lebih terasa.
absolutely a great show dengan segala keterbatasannya. dan senang bisa menjadi
bagian (mendadak) disana.